Resensi Buku King's Cage karya Victoria Aveyard

King’s Cage, Kisah Derajat Manusia yang Diperjuangkan dari Sang Penguasa Norta
 

Juduln   : King's Cage
Tahun Terbit : 2017
Penulis : Victoris Aveyard
Hal       : 688 (Soft cover)
ISBN :  9786023852864

Berkuasa menindas yang lemah, karena merasa derajatnya lebih tinggi. Isu inilah yang berusaha diangkat oleh Victoria Aveyard dalam buku King's Cage. Buku ini merupakan trilogi ketiga dari series The Red Queen (2015) dan Glass Sword(2016).
Buku ini bercerita tentang penderitaan golongan merah karena penindasan yang dilakukan oleh golongan perak yang berkuasa di Norta. Kerajaan Norta dipimpin oleh Raja Maven dari golongan perak. Maven Calore sebagai pemimpin melakukan banyak kekejaman kepada golongan merah. Oleh karena itu muncullah pemberontak diantara mereka, yakni kakak kandungnya sendiri, Cal Calore dan Mare Borrow, manusia terkuat diantara golongan merah. Mereka tidak bisa menerima kekejaman dan penindasan yang dilakukan oleh Maven hanya karena merasa golongan perak derajatnya lebih tinggi. Cal dan Mare Borrow bergabung dan berusaha membentuk pasukan untuk menyerang Maven. Namun, dibalik itu ada perasaan simpati dari Cal, ia tak sanggup menyerang adik kandungnya sendiri sedangkan Maven meyerang Maven, orang yang pernah dicintainya beberapa tahun yang lalu.
Menjelang pemberontakan Cal dan Mare dilakukan, hai ini diwarnai dengan isu politik. Maven yang berusaha menjalin kerja sama dengan raja dari kerajaan lain dengan syarat harus mau membagi rahasia kerajaannya, tentu saja walaupun Maven menang nantinya, sesuatu yang buruk pasti menantinya. Cal dan pasukannya juga berusaha mendapat kemenangan dengan bekerja sama dengan kerajaan lain tetapi ia harus menikah dengan Evangeline, putri Kerajaan Retakan. Hal ini hanya diketahui oleh panglima, sedangkan Cal sendiri baru mengetahui hal ini setelah perang berljalan. Tentu hal ini menimbulkan pertikaian yang besar karena disisi lain Cal mencintai Mare, begitu pula sebaliknya.
Dari sini dapat dilihat bahwa, Victoria juga menyuguhkan isu-isu politik dalam ceritanya yang tentunya tetap berhubungan dengan isu isu penindasan dan perbedaan derajat golongan atau kasta. Dimana isu-isu tersebut sering terjadi disekitar kita, seperti isu penindasan orang kulit hitam karena orang kulit putih yang merasa lebih baik dari kulit hitam di Korea, yang mengakibatkan orang kuiit hitam sering digunakan menjadi kambing hitam. Penulis juga ingin menunjukkan akibat buruk dari sistem kasta dan kesewenangan dalam memimpin, seperti banyaknya orang yang menderita bahkan kehiangan nyawa akibat terjadinya pemberontakan.  Isu-isu yang diangkat menurut saya benar-benar bagus, mengingat merebaknya isu ini dikalangan masyarakat, namun belum banyak orang berani mengagkat isu ini dikalangan umum.
Dalam kisahnya, penggambaran melalui sudut pandang seorang Maven, ia melakukan berbagai kekejaman untuk menunjukkan siapa yang berkuasa agar tidak ada yang berani menentangnya dan ia dapat mempertahankan kekuasaannya dalam waktu lama. Pemikiran ini merupakan buah dari ajaran ibunya Si kejam Ratu Elara yang menginginkan tetap dipertahankannya kasta, hal ini diceritakan dalam sudut pandang tokoh Mare, Cal, dan Cameron. Jadi pada intinya Maven pun tak bisa kita salahkan atas kesalahannya, karena sesungguhnya itu akibat pengaruh buruk pada lingkungannya.
Mare Borrow sebagai tokoh protagonis pun tak luput dari kesalahan. Kakaknya mati di medan perang akibat kecerbohaannya di masa muda yang  mengakibatkan ia merasa trauma dan selalu merasa bersalah. Ia pun juga egois karena membunuh Elara yang mengakibatkan Maven dendam kepadanya. Walaupun egois, hal tersebut dilatar belakangi agar Maven tidak terpengaruh terus menerus oleh Elara hal ini dapat dilihat dari sudut pandang Mare.
Dengan demikian, penulis menggunakan beberapa pemggambaran sudut pandang, dari sudut pandang Maven sebagai tokoh antagonis, Cameron sebagai tokoh tirtagonis yang mengukuti perang, Cal sebagai tokoh protagonis yang merupakan kakak Maven sekaligus pemimpin pemberontakan, dan Maven sebagai tokoh yang mencintai kedua pangeran kakak beradik. Dengan melihat sudut pandang dari setiap tokoh mengenai masalah yang dibahas, membuat kita dapat berpikir terbuka, mengetahui latar belakang tokoh untuk melakukan sesuatu, dan tidak langsung menjudge seorang tokoh.
Selain dengan menggunakan beberapa sudut pandang,  juga memiliki ciri khas dalam tulisannya yakni pendeskripsian yang mendetail mengenai suatu hal. Pendeskripsian yang mendetail ini meliputi penggambaram tokoh, tempat, dan suasana. Seperti pada kutipan berikut:
‘Singgasana itu tidak bertabur batu permata ataupun logam berharga. Hanya bongkahan batu kelabu berhiaskan sesuatu yang pipih mengilap praktis tidak bertanda. Kursi itu kelihatannya dingin dan tidak nyaman. Singgasana itu mengecilkan diri Maven, menjadikannya semakin belia dan semakin kecil’
Begitu pula pada kutipan berikut:
‘Suatu hari, pakaian yang diantarkan untukku ebih sederhana dariada biasanya. Nyaman, fungsional alih-alih bergaya. Gelagat pertama bahwa ada yang tidak beres. Aku hampir menyerupai petugas Keamanan, berkat celana Panjang berbahan melar, jaket hitam berhiaskan bulatan-bulatan dari titik-titik rubi. Selain itu, aku juga mendapat sepatu Bot yang nyaman dipakai,dari kulit yang sudah using tapi tersemir rapi, tanpa hak.’

Pada kutipan-kutipan diatas penggunaan kata Adjective oleh penulis sangat baik karena dapat menjadikan pembaca membayangkan benda yang dimaksud penulis dan  juga mampu menambah kesan pada setiap paragraf penggambarannya. 

                Alur dalam novel ini pun juga tak luput dari sentuhan khas Victoria. Ia menggunakan alur campuran, namun tetap mendetail. Alur yang mendetail dapat dilihat pada perpindahan urutan waktu dan suasana yang terjadi. Bagi seseorang yang belum membaca dua trilogy sebelumnya, dapat memahami novel King’s Cage dengan mudah. Perubahan alur dari alur maju dan mundur sangat halus sehingga seseorang yang membacanya merasa nyaman karena tak terkesan melompat-lompat.
Victoria Aveyard sebagai penulis King’s Cage menyuguhkan cerita dengan berbagai isu didalamnya dan sentuhan khasnya yang membuat kisah novel ini semakin apik. Sudut pandang yang diambilpun berbeda-beda sehingga kita dapat merasakan apa yang dirasakan setiap tokoh dan tidak langsung men-judge tokoh tanpa tahu apa yang mereka pikirkan. Buku ini akan membuka pikiran setiap orang yang membacanya.

0 Comments