Tugas 3 - Bahasa Indonesia MKWU 4108

 TUGAS 3 BAHASA INDONESIA (Universitas Terbuka)


1) Perbaikilah beberapa kesalahan tulisan yang ada pada teks di atas dengan mengacu pada tanda koreksi dan fungsinya sesuai dengan modul MKWU 4108 bahasa Indonesia halaman 8.37 s.d. 8.38.

Jawab:

disaat kondisi perekonomian global yang tengah krisis, torehan pertumbuhan ekonomi indonesia masih menunjukkan hasil yang positif. jika dibandingkan, pada triwulan kedua tahun ini dengan periode yang sama tahun lalu, ekonomi indonesia meningkat kurang lebih 6,4%. pertumbuhan ini masih terpusat di pulau jawa dengan peningkatan sebesar 57,5%. apabila diakumulasikan, pertumbuhan ekonomi indonesia semester I tahun 2012 lebih baik dibandingkan dengan semester I tahun 2011 yang tumbuh sekitar 6,3%. akan tetapi, pertumbuhan ekonomi di indonesia dinilai mengalami bias atau anomali. hal ini dikatakan oleh salamuddin daeng, pengamat ekonomi Indonesia dari for global justice. ia berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi ini tidak diikuti dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. 

tidak hanya itu, daeng juga memaparkan, setidaknya terdapat empat faktor yang membuat ekonomi indonesia mengalami bias. pertama, perekonomian indonesia lebih banyak ditengarai oleh utang asing yang nilainya terus meningkat.“utang indonesia mencapai rp2.865 triliun. utang asing pemerintah meningkat setiap tahunnya. utang ini menjadi sumber penghasilan utama pemerintah dan menjadi pendorong tumbuhnya ekonomi indonesia,” ujar Daeng. kedua, peningkatan konsumsi masyarakat dinilai ikut mendorong pertumbuhan ekonomi indonesia. konsumsi masyarakat yang meningkat bersumber dari harga sandang dan pangan yang mengalami kenaikan, serta disokong oleh pertumbuhan kredit konsumsi. ketiga, pertumbuhan ekonomi indonesia didorong oleh ekspor bahan mentah contohnya hasil perkebunan, hutan, migas, dan bahan tambang. Bahan mentah ini kurang menciptakan nilai tambah dan lapangan pekerjaan. faktor terakhir, pertumbuhan ekonomi indonesia didorong oleh penanaman asing yang menjadikan sumber daya alam indonesia makin dikuasai asing. Di lain pihak, a tony prasetiantono, pengamat ekonomi dari universitas gadjah mada, menyatakan pertumbuhan ekonomi indonesia ditopang oleh sektor domestik.menurutnya, dampak krisis global melalui defisit neraca perdagangan dan penurunan ekspor baru akan terasa pada kuartal ketiga dan keempat tahun ini. ia menilai kontribusi ekspor terhadap pdb tidak besar. 

selaras dengan itu, ekonom mirza adityaswara berpendapat bahwa sejumlah sektor ekonomi dalam negeri tumbuh karena didorong oleh suku bunga rendah. hal ini tampak dari peningkatan kredit yang mencapai 26-28% sekaligus didukung oleh harga bbm yang rendah sebab masih disubsidi oleh pemerintah. lebih lanjut mirza meyampaikan, sektor yang berorientasi dalam negeri mengalami pertumbuhan tinggi, misalnya otomotif, manufaktur, transportasi, komunikasi, dan perdagangan. Dampak dari kebijakan tersebut, pertumbuhan sektor yang berorientasi dalam ngeri memiliki kecenderungan defisit neraca perdagangan yng semakin besar. menurut a tony prasetiantono, belanja pemerintah yang lebih cepat dan besar juga sangat membantu pertumbuhan. seiring dengan hal itu, tingkat inflasi yang berada dibawah 5 % cukup membantu, walaupun hal tersebut ada dampaknya, yakni nilai subsidi energi yang terus membengkak yang sebetulnya tidak sehat.


2) Perbaiki kesalahan dalam penggunaan huruf kapital (sesuai Ejaan Bahasa Indonesia/Permendikbud RI Nomor 50 Tahun 2015) dengan memberikan blok kuning pada huruf kapital yang sudah dikoreksi/disunting pada jawaban saudara. 

Jawab: 

Disaat kondisi perekonomian global yang tengah krisis, torehan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menunjukkan hasil yang positif. Jika dibandingkan, pada triwulan kedua tahun ini dengan periode yang sama tahun lalu, ekonomi Indonesia meningkat kurang lebih 6,4%. Pertumbuhan ini masih terpusat di Pulau Jawa dengan peningkatan sebesar 57,5%. Apabila diakumulasikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia semester I tahun 2012 lebih baik dibandingkan dengan semester I tahun 2011 yang tumbuh sekitar 6,3%. Akan tetapi, pertumbuhan ekonomi di Indonesia dinilai mengalami bias atau anomali. Hal ini dikatakan oleh Salamuddin Daeng, pengamat ekonomi Indonesia dari For Global Justice. Ia berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi ini, tidak diikuti dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. 

Tidak hanya itu, daeng juga memaparkan, setidaknya terdapat empat faktor yang membuat ekonomi Indonesia mengalami bias. Pertama, perekonomian Indonesia lebih banyak ditengarai oleh utang asing yang nilainya terus meningkat. “Utang Indonesia mencapai Rp2.865 triliun. Utang asing pemerintah meningkat setiap tahunnya. Utang ini menjadi sumber penghasilan utama pemerintah dan menjadi pendorong tumbuhnya ekonomi Indonesia,” ujar Daeng. Kedua, peningkatan konsumsi masyarakat dinilai ikut mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Konsumsi masyarakat yang meningkat bersumber dari harga sandang dan pangan yang mengalami kenaikan, serta disokong oleh pertumbuhan kredit konsumsi. Ketiga, pertumbuhan ekonomi Indonesia didorong oleh ekspor bahan mentah contohnya hasil perkebunan, hutan, migas, dan bahan tambang. Bahan mentah ini kurang menciptakan nilai tambah dan lapangan pekerjaan. faktor terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia didorong oleh penanaman asing yang menjadikan sumber daya alam Indonesia makin dikuasai asing.

Di lain pihak, A. Tony Prasetiantono, pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada, menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang oleh sektor domestik. Menurutnya, dampak krisis global melalui defisit neraca perdagangan dan penurunan ekspor baru akan terasa pada kuartal ketiga dan keempat tahun ini. Ia menilai kontribusi ekspor terhadap PDB tidak besar. Selaras dengan itu, ekonom Mirza Adityaswara berpendapat bahwa sejumlah sektor ekonomi dalam negeri tumbuh karena didorong oleh suku bunga rendah. Hal ini tampak dari peningkatan kredit yang mencapai 26-28% sekaligus didukung oleh harga BBM yang rendah sebab masih disubsidi oleh pemerintah. lebih lanjut Mirza meyampaikan, sektor yang berorientasi dalam negeri mengalami pertumbuhan tinggi, misalnya otomotif, manufaktur, transportasi, komunikasi, dan perdagangan. Dampak dari kebijakan tersebut,  pertumbuhan sektor yang berorientasi dalam ngeri memiliki kecenderungan defisit neraca perdagangan yng semakin besar. Menurut A. Tony Prasetiantono, belanja pemerintah yang lebih cepat dan besar juga sangat membantu pertumbuhan. Seiring dengan hal itu, tingkat inflasi yang berada dibawah 5 % cukup membantu, walaupun hal tersebut ada dampaknya, yakni nilai subsidi energi yang terus membengkak yang sebetulnya tidak sehat.

0 Comments